Baju Koko Untuk Ayah

DSCN9530Lebaran kali ini sangat jauh berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya, kali ini kami lebaran tanpa daging rendang dan ketupat yang nikmat, tanpa baju baru, sandal baru, maupun uang saku seperti lebaran sebelumnya. Tapi lebaran kali ini penuh dengan kasih dan cinta.

Dua hari sebelum hari raya idul fitri 1436 H pada tahun ini.

“Alhamdulillah akhirnya saya bisa pulang kampung juga tahun ini,” hampir saja saya melompat-lompat kegirangan saat ayah mengirimkan uang untuk ongkos saya pulang kampung lebaran ini. Hampir saja saya putus asa karena sejak 5 bulan yang lalu berturut-turut saya tidak pernah dikirimi uang jajan saya bekerja secara serabutan dan mengandalkan sedikit bantuan teman-teman, senior dikampus untuk bisa makan melanjutkan hidup.

Oh iya saya adalah seorang mahasiswa disalah satu universitas negeri di kota Padang, saya masuk kuliah pada tahun 2013 yang berketepatan dengan berlakunya sistemu Uang Kuliah Tunggal (UKT), karena pada masa itu saat wawancara kehidupan saya masih lumayan mewah, Ayah masih mempunyai kebun untuk standard kehidupan kami semua itulah sebab saya ditetapkan dengan uang kuliah yang mahal.

Tidak tahu kenapa? Apakah ini ujian untuk saya atau memang hukuman karena selama ini saya terlalu manja hanya bisa menghabiskan uang saja. Satu bulan lamanya saya kuliah ternyata kebun sawit Ayah harus dijual untuk menutupi hutang hutang biaya pengobatan kakek. Ayah mempunyai banyak hutang karena selama kakek sakit ayah tidak pernah bekerja untuk mengasuh kakek.

Itulah awal cerita penderitaan saya dan keluarga yang susah dengan uang.

Pada ramadhan kali ini saya ditelpon oleh ayah tidak usah pulang karena uang ongkos pulang tidak ada, saya sangat sedih. Untuk mengisi waktu saya di Padang saya ikut menjadi mentor pesantren ramadhan yang berlangsung 10 hari, setiap hari saya harus masak untuk sahur dan buka, baru kali itu saya merasakan pahitnya kehidupan. Setiap kali saya memasak masakannya mungkin bertambah dengan air mata penikmat rasa.

Selesai pesantren ramadhan saya diberi sebuah amplop yang tidak pernah kuduga sebelumnya, tanganku gemetar untuk membuka amplop itu ternyata isinya uang Rp.200.000,-

“Ya Allah terimakasih atas nikmatmu ini,” saya berteriak dan sujud syukur. beberapa menit kemudian hp saya berbunyi.

“Assalamu alaikum rul,” suara ayah yang khas membuatku ingin segera memeluknya.

“Wa alaikum salam Ayah, ayah apa kabar? Ibu juga apa kabar?” saya sangat ceria sekali mendengar suara ayah yang sudah 2 minggu tidak menghubungi saya.

“Kami disini baik, kamu jiga baikkan? oh yah Rul, ayah sudah mengirimkan uang untuk ongkos pulangmu. Baliklah segera” kata ayah dari lubang speker handphone mungilku.

Saya bagai mendapat rezeki berlipat hari itu besoknya saya pulang kekampung (Medan, Sumatera Utara),

Singkat cerita pagi itu sebelum sholat Id ayah sudah mandi dan memakai baju terbaiknya yang sudah lusuh dan luntur, kemudian saya mendatangi ayah dan menyerahkan bungkusan plastik putih, saat ayah buka bungkusan itu.

“Apa ini? dari mana kamu dapat uang untuk membeli baju semahal ini?” suara ayah sangat keras membuatku ketakutan.

“Ayah itu hadiah untukmu pahlawanku, baju koko warna ungu itu saya beli dengan uang halal, amplop yang diberi dari pesantren ramadhan saat saya jadi mentor” penjelasan saya dengan suara menenangkan ayah.

Ayah memelukku dan saya membalas pelukan ayah dengan ayah menangis bahagia. Air mata ayah terjatuh ke bahu saya. Saya meminta maaf kepada ayah dan kamipun pergi sholat Id bersama.

N/B : Ayah tidak suka foto katanya malu makanya foto sendiri….

I Love My Hero…. Ayah

Iklan

One thought on “Baju Koko Untuk Ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s